| Jumat, 02 Januari 2009 |
|
Tersebutlah Kodir, si pengembara yang sedang kehabisan bekal, sudah beberapa hari ia kehabisan bekal. Ia hanya memakan apa saja yang ia jumpai di jalan. Akan tetapi, pantang bagi Kodir menengadakan tanganya. Ia tidak mau jadi pengemis. Kodir akhirnya tiba disuatu kampung. Kampung yang jarang penduduknya. Disanan ia berkesempatan berkenalan dengan seorang pemuda yang berambut sebahu. Cukup mengherankan, karena diantara semua lalaki di kampong, hanya pemuda itulah yang memiliki rambut gondrong. Akan tetapi, kodir tidak peduli dengan hal tersebuit. Yang ia butuhkan saat itu adalah makanan dan minuman. Pun kalau bisa, sedikit dapatkan itu semua, Kodir menawarkan dirinya untuk membantu si pemuda gondrong bekerja. “Saudara, aku sedang kehabisan bekal. Aku sangat membutuhkan uang dan pembekalan untuk melanjutkan perjalananku.” “Lalu, apa yang bisa kubantu, Saudaraku?” Tanya pemuda gondrong, ramah. “Izinkan aku bekerja padamu, dan sebagai mana layaknya orang bekerja, tentu ada upahnya. Saudara mengerti kan maksud saya?” “Baiklah, saudara bisa mulai bekerja hari ini. Tapi, aku hanya seorang pencari kayu bakar, jadi aku mungkin tidak bisa memberimu uoah yang terlalu besar.” “Tidak apa – apa, saudar. Yang penting, aku punya bekal untuk meneruskan perjalananku dan punya tempat berteduh untuk sementara waktu. Karena itu, aku juga minta izin untuk menginap.” “O, silakan!”
Setelah tiga hari Kodir menginap dirumah si pemuda yang baik hati itu, ia mendengar desas – desus orang – orang kampong tentang diri si pemuda. Katanya, pemuda ini jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Ia lebih senang hidup sendiri. Dengan keanehan yang melekat pada diri si penuda, niat Kodir untuk pergi melanjutkan perjaloanannya ditunda. Ia ingin meneliti dan membuktikan omongan dan gosip yang digaungkan oleh warga. Maka, diutarakanlah niatnya untuk menginap barang sehari atau dua hari lagi. Dengan gembira, si pemuda menyilahkan Kodir untruk menginap kembali. Malam pertama , Kodir tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya menerawang entah kemana. Otaknya terus berputar. Akhirnya, malam itu ia memberanikan diri untuk mengintip si pemuda. Kodir ingin tau apa yang sering dilakukan si pemuda bila malam telah datang. Namun, setelah Kodir mengintip dari lubang bilik bamboo, ia menelan kekecewaan. Karena ternyata si epmuda itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Keesokan harinya, ketika matahari sudah menunjukkan kepeerkasaannya, Kodir masih bergelut dengan sarung dan bantalnya. Ia baru bangun ketika si pemuda membangunkannya. Rasa penasaran Kodir belum terpenuhi. Ia pun lalu mengutarakan maksudnya untuk kembali menginap. Bukan Kodir namanya jika menyerah dengan hal yang demikian. Kodir adalah orang yang memmiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Itu pula yang menyebabkannya pergi mengembara. Tanpa diduga, si pemuda itu mengizinkan Kodir untuk kembali menginap beberapa hari lagi. Tentu saja ini makin mengacu Kodir untuk menggali lebih dalam tentang kepribadian si pemuda. Dua hari telah berlalu, tapi belum juga Kodir manamukan keanehan dari diri si pemuda. Ia merasa heran. Maka, penyelidikanpun dilakukan lebih intens. Bukan hanya mengintip ketika si pemuda sedang tidur, akan tetapi semua kativitas si pemuda tidak luput dari pemantauan Kodir. Suatu hari, si pemuda hendak pergi kehutan, mencari kayu bakar. Tak ketinggalan, Kodir juga ikut bersamanya. Letak hutan itu sangatlah jauh dan terjal mendaki. Tak heran, jika Kodir yang walaupun seorang pengembara, dibuatnya ngos – ngosan. Disinilah Kodir menemukan keganjalan. Ia begitu heran dengan si Pemuda. Ketika ia sedang kelelahan dan memaki – maki kondisi karena didepan ada tanjakan yang sangat tinggi, si pemuda malah tersenyum. Ia gembira sekali ketika menjupai jalan yang menanjak. Kodir bertanya – Tanya heran dalam hatinya. Rasa pebnasaran dan heran memabalut Kodir yang belum habis, kini bertanya lagi. Kembali ia di buat bertanya – Tanya. Setelah kelelahan menaiki jalan yang menanjak, ia akhirnya menemukan jalan yang menurun juga. Tentu saja ia merasa gembira, karena sudah pasti hal itu tidak akan menguras lebih banyak tenaga. Namun, lain halnya dengan si pemuda. Kembali ia melakukan keanehan seperti ketika menemukan tanjakan. Ia menangis tersedu – sedu ketika menemui turunan. Rasa heran terus dibawa kodir sedari di perjalanan sampai tiba kembali di rumah. Kodir makin tertantang untuk mengetahui lebih jauh. Karena penyelidikannya selama ini tidak membuahkan hasil. Dan ia tidak ingin menebak – nebak saja. Ia harus menanyakan langsung kepada si pemuda. Ya. Menanyakan langsung. Maka, ketika hari sudah malam, ditanyakanlah perihal perilaku aneh yang dilakukan si pemuda tersebut oleh KOdir. “Hai Saudaraku, terima kasih kau sudah memebrikan tempat istirahat buatku.” “Sudah selayaknya, kita sebagai hamba Allah untuk saling tolong – menoong.” Kodir heran, mendengar omongan si pemuda ini begitu dalam dan bermakna. Padahal yang selama ini ia dengar dan ia lihat dari diri si pemuda adalah keanehan demi keanehan. “Terima kasih, Saudaraku. Kalau boleh, aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu.” “Tanyakan sajalah, saudaraku. Insya Allah aku yang lemah ini akan membantu sebaik – baiknya.” “Sebelumnya aku minta maaf, jika pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Begini, ketika kita pergi ke hutan mencari kayu bakar, ada keanehan yang aku temui.” “Keanehan? Apa itu, Saudaraku?” “Sekali lagi, maaf Saudaraku. Saudara melakukan hal yang tidak sebagaimana lazimnya aku dan mungkin orang – orang lakukan. Ketika Saudara mem\nemui tanjakan yang melelahkan dan menjengkelkan, saudara malah tersenyum. Demikian pula sebaliknya, ketika menemui turunan yang tidak melelahkan, saudaraku malah menangis.” Si pemuda menarik napas panjang. Kodir merasa tidak enak hati. “Baiklah Saudaraku, akan kupuiaskan rasa penasaranmu. Begini, ketika aku menemui tanjakan aku tersenyum, karena aku merasa yakinsetelah menemukantanjakan tersebut pasti aku akan menemukan turunan yang ringan untuk kujalani. Demikian pula ketika aku menemui turunan kemudian menangis, itu karena aku yakin setelah itu aku akan temui tanjakan yang amat melelahkan untuk kudaki, semakin landai pula turunan yang akan kutemui, pun sebaliknya.” Kodir mengerutkan keningnya. Bingung. Akan tetapi, ia tidak punya keberanian lebih untuk mengorek lebih dalam lagi. “Baiklah Saudaraku. Sekali lahi, aku mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kau berikan. Aku pamit, melanjutkan kembali perjalananku.” “Tidakkah kau menginap barang sehari lagi?” “Sepertinya tidak, Saudaraku. Aku akan pergi sekarang juga.” “baiklah, hati – hati di jalan!” |
posted by Remaja Masa Kini at 04.06  |
|
|
|