HANYA SATU JURUS Seorang muda yang mengalami keberuntungan. Akibat kecelakaan, terpaksa ia ahrus merelakan tangan kananya untuk diamputasi . meski berat, ia akhirnya harus relamenjalani sisa umurnya dengan satu tanga. Akan tetapi, pantang bagi si pemuda untuk mengemis. Karena, akibat tanganya yang diamputasi, ia ditinggalkan oleh para kolega bisnisnya. Istri yang selama ini mendapinginya, telah berhasil menipunya sehingga seluruh hartanya kini berada ditangan sang istri bersama selingkuhannya. Si pemuda lalu pergi mengembara, dari satu kota ke kota lain. Sampai pada akhirny, si pemuda ini diterima bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perguruan judo. Setiap harinya selainmembersihkan tempat latihan , spemuda ini menonton latihan judo. Aktivitas si pemuda ini menarik perhatian si pelatih judo. Kemudian, dengan tulus ia menawari si lelaki bunting untuk latihan judo. Dengan senang hati ia menerima tawaran dari pelatih judo. Setelah menerima tawaran untuk latihan, pemuda bunting itu giat berlatih. Sampai akhirnyasi pemuda bunting ini ditunjuk untuk mengikuti kejuaraan judo tingkat dunia. Beberapa kalui si pemuda bunting menolak. Karena ia sadar dir, ia hanyalah seorang pemuda yang hanya memiliki satu tangan. Akan tetapi, setelah diyakinkan oleh sang pelatih, akhirnya si pemuda bunting ini akhirnya bersedia mengikuti kejuaraan dunia. Pertandingan dimulai. Si pemuda bunting langsung mendapat lawan yang tangguh. Dengan pongah, lawan ini meminta agar si pemuda bunting menyerah saja. Akan tetapi, pantang bagi si pemudah untuk menyerah. Wasit memberi tanda pertandingan dimulai. Dengan kewaspadan penuh, si pemuda bunting bertarung dengan lawannya yang memiliki dua tangan yang kekar. Pada akhirnya, si pemuda bunting ini berhasil mengunci lawannya. Tetapi anehnya, setelah lawan dikunci, ia tidak bisa melepaskan diri. Padahal secara fisik tidak seimbang. Yang satu bertangan satu dan yang lainnya bertangan lengkap. Si pemuda bunting memperoleh kemenangan pertamanya. Bukan main senangnya ia. Seminggu yang akan datang, ia kaan menghadapi babak selanjutnya. Sudah pastilawan yang akan dihadapinya lebih hebat daripada lawan yang keamarin. “Guru, ajarkan aku beberpa jurus lagi untuk menghadapi lawanku minggu depan!”ujar si pemuda. Akan tetapi, sang guru hanya diam saja, sambil menikmati secangkir the hangat. “kalau guru tidak mau mengajarkan beberpa jurus, satu jurus saja!” si pemuda memelas. “Satu jurus yang aku berikan itu sudah cukupuntukmu,” ujar sang guru. Si pemuda bunting jelas tidak mengerti. Tiba saatnya pertandingan. Lagi – lagi, si pemuda bunting berhasil mengalahkan lawannya. Di sendiri merasa heran. Dia yang hanya memiliki satu jurus mampu mengalahkan lawanya setelah ia berhasil mengunci lawannya. Sang guru memberikan ucapan selamat padanya. Minggu – minggu menegangkan bagi si pemuda. Karena ia berhasil masuk final. Tetapi sampai disini, ia ragu apakah bisa memenangkan pertandingan atau tidak. Karena lawan yang akan dihadapinya adalah juara dunia tiga dunia berturut – turut. “Guru, tolong ajrkan aku satu jurus lagi!Lawan yang aku hadapui saai ini adalah lawan yang hebat. Ia juara bertahan!” si pemuda meyakinkan gurunya agar mau mengajarinya satu jurus lagi. Akan tetapi, jawaban sang guru sama dengan pertama kali ia diminta mengajari satu jurus lagi, satu jurus aku berikan itu sudah cukup” Si pemuda bunting kini berada di puncak kecemasan. Juara dunia tiga kali berturut–turut kini berada di hadapannya. Mereka siap bertanding. Si pemuda bunting agak keder juga menghadapinya. Karena ia hanya mebnguasai satu jurus saja dan belum memiliki pengalaman yang cukup. Pertandingan dimulia. Si pemuda bunting langsung memasang kuda-kuda. Dan, sekali lagi ia membuktikan sebagai juara dunia baru. Ya, juara tiga kali berturut – turut berhasil ia kalahkan. Setelah tidak percaya dengan hal ini. Dengan etrurai air mata, ia menerima piala dan hadiah uang. Ia pun kembali mejadi orang kaya, lebih kaya dari sebelumnya. “Guru, kenapa aku bisa mengalahkan lawan-lawanku meski hanya memiliki satu tangan?” tanga si pemuda bunting suatu hari. “Kau memiliki kehebatan yang orang lain tidak memilikinya. Itulah sebabnya, aku tiodak mau memberikan jurus tambahan, meski meski hanya satu jurus saja.” “Kehebatan?” si pemuda bingung. “Ya, kehebatan yang hanya dimiliki oleh seorang juarategas sang guru. “Aku masih tidak mengerti.” “Kau memiliki semangat tinggi untuk menang. Itulah yang menyebabkanmu menjadi pemenang. Selain itu, dengan kondisi tanganmu yang Cuma satu, itu menguntungkanmu. Karena di samping lawan mengganggap remeh, dengan tangan satu susah bagi lawanmu untuk melepaskan diri setelah berhasil kau kunci. Kalau kau memiliki dua tangan, dan kedua tanganmu mengunci lawan, maka lawamnu akan melakukan perlawanan dengan mencoba melepaskan kunci lewat tangan kiri atau tangan kananmu.” Mengertilah kini si pemuda. Beberapa kali ia mengucap syukur. Kekayaan yang telah dirampas oleh sang istri kini telah kembali berkat tangan bungtungnya. Bahkan, kini ia menjadi orang terkenal sebagai juara sunia judo
Sebuah keluarga, suatu saat pindah rumah. Mereka pindah dari kota ke desa. Pindah karena ingin menikmati masa – masa tua dengan tenang. Ia ingin menhabiskan masa–masa tua dengan tenang. Ia ingin menghabiskan masa tuanya di desa tersebut. Dan desa itu adalah desa tempat kepala keluarga itu dilahirkan. Keluarga itu memiliki tiga tetangga, yang rumahnya berdekatandengan rumah Pak Huse, orang baru itu. Sekian lama bergaul, Pak Husen mulai terlihat aslinya. Ia lebih mengutamakan dan menghormati yang sebagian dan mengacuhkan tetangga yang lain. Perlakuan Pak Husen terhadap ketiga tetangganya pun berbeda. Karena nmemang ketiga tetangganya memiliki status sosial yang berbeda. Yang du kaya dan yang satu laghi keluarga sederhana. Kepada tetangga yang kiaya, Pak Husen selalau menomorsatukan. Apapun yang diminta oleh si tetangga kaya, selalui ia penuhi. Karena ia berfikir, suatu saat akan menerima balasab dari tetangga kaya itu, tebntunya dengan kebaikan yang lebih dari yang ia lakukan. Sementara kepada tetangga yang sederhana, walau ia juga memberi, tetapi tidak sebanding dengan yang diberikan kepada si tetangga kaya. Bahkan kalau si tetangga sederhana memerlukan bantuan, Pak Husen hanya membantu sekedarnya, dan lebih sering mengacuhkannya. Sutu hari, bebrapa orang polisi datang kerumah Pak Husen. Katanya, mereka akan membawa Pak Husen ke kantor polisi karena terlibat dengan kasus pelanggaran hokum. Pak Husen jelas kaget, karena baru pertama kali dibawa ke kantor polisi, bahkan sampai di borgol tangannya. Pak Husen makin ketakutan. Apalagi setelah kasus yang menurutnya tidak jelas, sampai diproses ke pengadilan. Pak Husen benar – benar tak bisa berbuat apa – apa. Bahkan menyewa jasa pengacara pun ia tak sanggup. Akhirnya ia ingat dengan ketiga tetangganya. Datanglah Pak Husen dengan beberapa orang polisi kerumah tetangganya. Mula – mula Pak Husen mendatangi rumah tetangganya yang kaya. “Hai tetanggaku, hari ini aku di panggil pihak pengadilan untuk suatu kasus yang tidak aku ketahui, selama ini kita bertetangga baikaku sering memberimu semua yang aku milik,” ujar Pak Husen mengungkit – ungkit kebaikannya. Si tetangga mabnggut – manggut,” lalu?” “Tetanggaku yang baik, seperti yang kau tau, aku di tuduh dan diadili ata kasus yang tidak kutetahui. Aku minta bantuanmu untuk membelaku nanti dipengadilan.” Pak Husen mengiba. “Wah, maaf Pak Husen, kami ini keluarga yang sangat sibuk. Jasi kami mungkin tidak bisa membantu bapak.” Dengan kecewa, pergilah Pak Husen ke rumah tetangganya yang kaya pula. Seperti di tetangga pertama, Pak Husen menjelaskan duduk persoalannya. Tetangga yang kedua ini sangat respek dan empati dengan apa yang menimpa Pak Husen. “Pak Husen jangan khawatir, saya akan membatu sebatas kemampuan yang saya miliki. Tapi, saya tidak memliki keterampilan dal;am bidang hokum, jadi saya akan mengantarkan bapak sampai ke pintu pengadilan saja.” Lagi – lagi Pak Husen harus menelan kekecewaan. Kedua tetangga yang dahulu ia angungkan karena kekayaan dan keterbukaannya, ternyata tak bisa membantunya yang tengah dirundung masalah. Namun ia teringat dengan tetangganya yang ketiga. Tyapi, ia malu untuk meminta bantuan tetangga yang ketiga ini. Karena perlakuan yang ia berikan tidak sebanding dengan apa yang ia berikan pada kedua tetangganya. Akan tetapi, karena ia sudah tidak punya siapa – siapa lagi, didatanginya pula rumah tetangganya yang sederhana itu. Seperti biasa, setelah Pak Husen datang ke hadapan tetangganya yang ketiga. Dan tanpa diduga, si tetangga yang sederhana ini bukan hanya respek, bahkan siap membantu. “Bapak tenang sajua, saya akan membantu Bapak dipengadilan nant. Saya akan membantu Bapa, kita kan tetangga, Pak,” ujar si tetangga. Pak Husen menjadi malu. Malumkarena selama ini ia mengesampingkan tetangganya yang satu ini. Ia menyesal karena telah mengutamakan kedua tetangganya yang jelas – jelas tidak dapat membantunya. Penyesalanlah yang kini menyergap Pak Husen. Ia ingin mengubah sikap dan perilakunya terhadap si tetangga sederhana. Namun, ia tidak tau apakah ia akan bebas dan selamat dari pengadilan. Ia berjanji dalam hati, kalau ia selamat dan sampai bebas dari pengadilan, ia akan merubah sikapnya. Ia akan berbuat baik terhadap tetangganya yang satu ini.
Tersebutlah Kodir, si pengembara yang sedang kehabisan bekal, sudah beberapa hari ia kehabisan bekal. Ia hanya memakan apa saja yang ia jumpai di jalan. Akan tetapi, pantang bagi Kodir menengadakan tanganya. Ia tidak mau jadi pengemis. Kodir akhirnya tiba disuatu kampung. Kampung yang jarang penduduknya. Disanan ia berkesempatan berkenalan dengan seorang pemuda yang berambut sebahu. Cukup mengherankan, karena diantara semua lalaki di kampong, hanya pemuda itulah yang memiliki rambut gondrong. Akan tetapi, kodir tidak peduli dengan hal tersebuit. Yang ia butuhkan saat itu adalah makanan dan minuman. Pun kalau bisa, sedikit dapatkan itu semua, Kodir menawarkan dirinya untuk membantu si pemuda gondrong bekerja. “Saudara, aku sedang kehabisan bekal. Aku sangat membutuhkan uang dan pembekalan untuk melanjutkan perjalananku.” “Lalu, apa yang bisa kubantu, Saudaraku?” Tanya pemuda gondrong, ramah. “Izinkan aku bekerja padamu, dan sebagai mana layaknya orang bekerja, tentu ada upahnya. Saudara mengerti kan maksud saya?” “Baiklah, saudara bisa mulai bekerja hari ini. Tapi, aku hanya seorang pencari kayu bakar, jadi aku mungkin tidak bisa memberimu uoah yang terlalu besar.” “Tidak apa – apa, saudar. Yang penting, aku punya bekal untuk meneruskan perjalananku dan punya tempat berteduh untuk sementara waktu. Karena itu, aku juga minta izin untuk menginap.” “O, silakan!”
Setelah tiga hari Kodir menginap dirumah si pemuda yang baik hati itu, ia mendengar desas – desus orang – orang kampong tentang diri si pemuda. Katanya, pemuda ini jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Ia lebih senang hidup sendiri. Dengan keanehan yang melekat pada diri si penuda, niat Kodir untuk pergi melanjutkan perjaloanannya ditunda. Ia ingin meneliti dan membuktikan omongan dan gosip yang digaungkan oleh warga. Maka, diutarakanlah niatnya untuk menginap barang sehari atau dua hari lagi. Dengan gembira, si pemuda menyilahkan Kodir untruk menginap kembali. Malam pertama , Kodir tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya menerawang entah kemana. Otaknya terus berputar. Akhirnya, malam itu ia memberanikan diri untuk mengintip si pemuda. Kodir ingin tau apa yang sering dilakukan si pemuda bila malam telah datang. Namun, setelah Kodir mengintip dari lubang bilik bamboo, ia menelan kekecewaan. Karena ternyata si epmuda itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Keesokan harinya, ketika matahari sudah menunjukkan kepeerkasaannya, Kodir masih bergelut dengan sarung dan bantalnya. Ia baru bangun ketika si pemuda membangunkannya. Rasa penasaran Kodir belum terpenuhi. Ia pun lalu mengutarakan maksudnya untuk kembali menginap. Bukan Kodir namanya jika menyerah dengan hal yang demikian. Kodir adalah orang yang memmiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Itu pula yang menyebabkannya pergi mengembara. Tanpa diduga, si pemuda itu mengizinkan Kodir untuk kembali menginap beberapa hari lagi. Tentu saja ini makin mengacu Kodir untuk menggali lebih dalam tentang kepribadian si pemuda. Dua hari telah berlalu, tapi belum juga Kodir manamukan keanehan dari diri si pemuda. Ia merasa heran. Maka, penyelidikanpun dilakukan lebih intens. Bukan hanya mengintip ketika si pemuda sedang tidur, akan tetapi semua kativitas si pemuda tidak luput dari pemantauan Kodir. Suatu hari, si pemuda hendak pergi kehutan, mencari kayu bakar. Tak ketinggalan, Kodir juga ikut bersamanya. Letak hutan itu sangatlah jauh dan terjal mendaki. Tak heran, jika Kodir yang walaupun seorang pengembara, dibuatnya ngos – ngosan. Disinilah Kodir menemukan keganjalan. Ia begitu heran dengan si Pemuda. Ketika ia sedang kelelahan dan memaki – maki kondisi karena didepan ada tanjakan yang sangat tinggi, si pemuda malah tersenyum. Ia gembira sekali ketika menjupai jalan yang menanjak. Kodir bertanya – Tanya heran dalam hatinya. Rasa pebnasaran dan heran memabalut Kodir yang belum habis, kini bertanya lagi. Kembali ia di buat bertanya – Tanya. Setelah kelelahan menaiki jalan yang menanjak, ia akhirnya menemukan jalan yang menurun juga. Tentu saja ia merasa gembira, karena sudah pasti hal itu tidak akan menguras lebih banyak tenaga. Namun, lain halnya dengan si pemuda. Kembali ia melakukan keanehan seperti ketika menemukan tanjakan. Ia menangis tersedu – sedu ketika menemui turunan. Rasa heran terus dibawa kodir sedari di perjalanan sampai tiba kembali di rumah. Kodir makin tertantang untuk mengetahui lebih jauh. Karena penyelidikannya selama ini tidak membuahkan hasil. Dan ia tidak ingin menebak – nebak saja. Ia harus menanyakan langsung kepada si pemuda. Ya. Menanyakan langsung. Maka, ketika hari sudah malam, ditanyakanlah perihal perilaku aneh yang dilakukan si pemuda tersebut oleh KOdir. “Hai Saudaraku, terima kasih kau sudah memebrikan tempat istirahat buatku.” “Sudah selayaknya, kita sebagai hamba Allah untuk saling tolong – menoong.” Kodir heran, mendengar omongan si pemuda ini begitu dalam dan bermakna. Padahal yang selama ini ia dengar dan ia lihat dari diri si pemuda adalah keanehan demi keanehan. “Terima kasih, Saudaraku. Kalau boleh, aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu.” “Tanyakan sajalah, saudaraku. Insya Allah aku yang lemah ini akan membantu sebaik – baiknya.” “Sebelumnya aku minta maaf, jika pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Begini, ketika kita pergi ke hutan mencari kayu bakar, ada keanehan yang aku temui.” “Keanehan? Apa itu, Saudaraku?” “Sekali lagi, maaf Saudaraku. Saudara melakukan hal yang tidak sebagaimana lazimnya aku dan mungkin orang – orang lakukan. Ketika Saudara mem\nemui tanjakan yang melelahkan dan menjengkelkan, saudara malah tersenyum. Demikian pula sebaliknya, ketika menemui turunan yang tidak melelahkan, saudaraku malah menangis.” Si pemuda menarik napas panjang. Kodir merasa tidak enak hati. “Baiklah Saudaraku, akan kupuiaskan rasa penasaranmu. Begini, ketika aku menemui tanjakan aku tersenyum, karena aku merasa yakinsetelah menemukantanjakan tersebut pasti aku akan menemukan turunan yang ringan untuk kujalani. Demikian pula ketika aku menemui turunan kemudian menangis, itu karena aku yakin setelah itu aku akan temui tanjakan yang amat melelahkan untuk kudaki, semakin landai pula turunan yang akan kutemui, pun sebaliknya.” Kodir mengerutkan keningnya. Bingung. Akan tetapi, ia tidak punya keberanian lebih untuk mengorek lebih dalam lagi. “Baiklah Saudaraku. Sekali lahi, aku mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kau berikan. Aku pamit, melanjutkan kembali perjalananku.” “Tidakkah kau menginap barang sehari lagi?” “Sepertinya tidak, Saudaraku. Aku akan pergi sekarang juga.” “baiklah, hati – hati di jalan!”
Sebuah perusahaan besar di bidang industri sedang membuka lowongan pekerjaan. Perusahaan tersebut sedang naik daun. Untuk itulah mereka menambah jumlah karyawan agar produksi yang dihasilkan menjadi lebih baik.
Ribuan orang memasukkan lamaran kerja ke perusahaan itu. Setelah melalui tahap seleksi yang cukup ketat, tersaringlah tiga orang. Mereka dipanggil untuk menghadapi tes wawancara.
Tes wawancara kali ini berbeda dri biasanya. Ketiga kandidat karyawan tersebut diwawancarai secara bersamaan dan dengan pertanyan yang sama. Jawaban mereka bertiga sangat memuaskan bagian personalia. Akan tetapi perusahaan tersebut hanya akan menerima satu orang karyawan saja. Tentu satu karyawan ini kualitasnya menyamai ribuan orang yang melamar kerja di perusahaan itu.
“Baik saudara – saudara, ini pertanyaan terakhir dari saya. Siapa diantara anda yang menjawab dengan baik, maka dialah yang akan diterima di perusahaan ini. Kalian siap?”
Ketiga kandidat ini serentak menyatakan kesiapanya. Karena memang, mereka dijanjikangaji dan tunjangan yang besar,
“Baiklah. Pertanyaan saya sederhana saja. Apa yang paling cepat di duniua?”
serentak ketiga calon karyawan ini terbengong – bengong. Karena pertanyaan yang diajukan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan atau dunia perusahaan.
“Apa kalian bisa menjawabnya?” Tanya HRD, memastikan.
“Ya, kami siap!” ujar mereka
“Silahkan, siapa dulu yang akan menjawab?”
pelamar pertama mengancungkan tangan dadan langsung disilahkan oleh HRD.
“Yang paling cepat didunia ini adalah cahaya.”
“Apa alasan anda mengatakan cahaya yang paling tercepat di dunia?”
“Lho, memang yang tercepat di dunia itu cahaya apa lagi kalau bukan cahaya. Bahkan ada istilah kecepatan cahaya. Iya kan?”
HRD memanggut – manggut. Di dlaam hati ia membenarkan jawaban calon karyawan yang pertama. Akan tetapi ia ingin membenarkan jawaban dari dua calon karyawan yang masih tersisa.
“Bagaimana menurut anda?” Tanya HRD kepada calon yang kedua.
“Kalau menurut saya, yang paling cepat di dunia adalah pikiran.”
“Alasan anda?”
“Ya sudah jelas pikiranlah yang paling cepat dibandingkan dengan cahaya sekalipun. Karena oprang mengistilahkan kecepatan cahaya tentu dari hasil pemikiran terlebih dahulu. Tanpa dipikirkan sahulu, nmaka tidak akan ada istilah kecepatan cahaya.”
Tercenganng HRD itu. Memang benar jawaban si calon yang kedua ini. Tetapi ia tidak ingin mengambil kesimpulan terlebih dulu, mengingta masih ada satu orang lagi yang belum menjawab pertanyaannya.
“Baik, sekarang giliran terakhir, anda!” HRD menyilakan calon yang ketiga.
“Menurut saya, ada satu hal yang melebihi kecepatan cahaya dan pikiran.”
“Apa itu?” HRD merasa penasaran/
“Diare.”
Demi mendengar jawaban orang yang ketiga ini, kedua calon karyawan termasuk HRD tertawa terpingkal – pingkal. Mereka menertawakan jawaban yang diberikan oleh calon pekerja yang ketiga.
“Baiklah. Sekarang, coba jelaskan kepada kami” ujar HRD sembari tetap tertawa.
“Tadi dikatakan bahwa pikiran lebih cepat ketimbang kecepatan cahaya. Karena istilah kecepatan cahaya tidak akan ada jika tidak ada hasil pemikiran yang brilian. Tahukah anda, bahwa pekerjaan cahaya merupakan buah pikiran dihasilkan dalam waktu yang lama? Tetapi, kalau anda sedang diare, maka anda tidak perlu berfikir lama – lama. Karena didalam benak benak anda pasti sudah terbayangharus kemana anda pergi dan apa yang harus dilakukan.
Penjelasan calon karyawan yang ketiga ini membungkam kedua calon karyawan dan HRD yang sedang tertawa. Di dalam hati mereka membenarkan jawaban calon yang ketiga.
Setelah beberapa hari, dipanggillah calon pekerja yang ketiga. Dialah yang diterima sebagai karyawan di perusahaan itu. Bahkan ia menempati posisi yang banyak diidamkan oleh setiap orang. Posisi dengan gaji yang tinggi untuk pekerja pemula.