Jumat, 02 Januari 2009

Penyesalan yang terlambat

Sebuah keluarga, suatu saat pindah rumah. Mereka pindah dari kota ke desa. Pindah karena ingin menikmati masa – masa tua dengan tenang. Ia ingin menhabiskan masa–masa tua dengan tenang. Ia ingin menghabiskan masa tuanya di desa tersebut. Dan desa itu adalah desa tempat kepala keluarga itu dilahirkan.
Keluarga itu memiliki tiga tetangga, yang rumahnya berdekatandengan rumah Pak Huse, orang baru itu. Sekian lama bergaul, Pak Husen mulai terlihat aslinya. Ia lebih mengutamakan dan menghormati yang sebagian dan mengacuhkan tetangga yang lain.
Perlakuan Pak Husen terhadap ketiga tetangganya pun berbeda. Karena nmemang ketiga tetangganya memiliki status sosial yang berbeda. Yang du kaya dan yang satu laghi keluarga sederhana.
Kepada tetangga yang kiaya, Pak Husen selalau menomorsatukan. Apapun yang diminta oleh si tetangga kaya, selalui ia penuhi. Karena ia berfikir, suatu saat akan menerima balasab dari tetangga kaya itu, tebntunya dengan kebaikan yang lebih dari yang ia lakukan. Sementara kepada tetangga yang sederhana, walau ia juga memberi, tetapi tidak sebanding dengan yang diberikan kepada si tetangga kaya. Bahkan kalau si tetangga sederhana memerlukan bantuan, Pak Husen hanya membantu sekedarnya, dan lebih sering mengacuhkannya.
Sutu hari, bebrapa orang polisi datang kerumah Pak Husen. Katanya, mereka akan membawa Pak Husen ke kantor polisi karena terlibat dengan kasus pelanggaran hokum. Pak Husen jelas kaget, karena baru pertama kali dibawa ke kantor polisi, bahkan sampai di borgol tangannya.
Pak Husen makin ketakutan. Apalagi setelah kasus yang menurutnya tidak jelas, sampai diproses ke pengadilan. Pak Husen benar – benar tak bisa berbuat apa – apa. Bahkan menyewa jasa pengacara pun ia tak sanggup. Akhirnya ia ingat dengan ketiga tetangganya.
Datanglah Pak Husen dengan beberapa orang polisi kerumah tetangganya. Mula – mula Pak Husen mendatangi rumah tetangganya yang kaya.
“Hai tetanggaku, hari ini aku di panggil pihak pengadilan untuk suatu kasus yang tidak aku ketahui, selama ini kita bertetangga baikaku sering memberimu semua yang aku milik,” ujar Pak Husen mengungkit – ungkit kebaikannya.
Si tetangga mabnggut – manggut,” lalu?”
“Tetanggaku yang baik, seperti yang kau tau, aku di tuduh dan diadili ata kasus yang tidak kutetahui. Aku minta bantuanmu untuk membelaku nanti dipengadilan.” Pak Husen mengiba.
“Wah, maaf Pak Husen, kami ini keluarga yang sangat sibuk. Jasi kami mungkin tidak bisa membantu bapak.”
Dengan kecewa, pergilah Pak Husen ke rumah tetangganya yang kaya pula. Seperti di tetangga pertama, Pak Husen menjelaskan duduk persoalannya. Tetangga yang kedua ini sangat respek dan empati dengan apa yang menimpa Pak Husen.
“Pak Husen jangan khawatir, saya akan membatu sebatas kemampuan yang saya miliki. Tapi, saya tidak memliki keterampilan dal;am bidang hokum, jadi saya akan mengantarkan bapak sampai ke pintu pengadilan saja.”
Lagi – lagi Pak Husen harus menelan kekecewaan. Kedua tetangga yang dahulu ia angungkan karena kekayaan dan keterbukaannya, ternyata tak bisa membantunya yang tengah dirundung masalah. Namun ia teringat dengan tetangganya yang ketiga. Tyapi, ia malu untuk meminta bantuan tetangga yang ketiga ini. Karena perlakuan yang ia berikan tidak sebanding dengan apa yang ia berikan pada kedua tetangganya. Akan tetapi, karena ia sudah tidak punya siapa – siapa lagi, didatanginya pula rumah tetangganya yang sederhana itu.
Seperti biasa, setelah Pak Husen datang ke hadapan tetangganya yang ketiga. Dan tanpa diduga, si tetangga yang sederhana ini bukan hanya respek, bahkan siap membantu.
“Bapak tenang sajua, saya akan membantu Bapak dipengadilan nant. Saya akan membantu Bapa, kita kan tetangga, Pak,” ujar si tetangga.
Pak Husen menjadi malu. Malumkarena selama ini ia mengesampingkan tetangganya yang satu ini. Ia menyesal karena telah mengutamakan kedua tetangganya yang jelas – jelas tidak dapat membantunya.
Penyesalanlah yang kini menyergap Pak Husen. Ia ingin mengubah sikap dan perilakunya terhadap si tetangga sederhana. Namun, ia tidak tau apakah ia akan bebas dan selamat dari pengadilan. Ia berjanji dalam hati, kalau ia selamat dan sampai bebas dari pengadilan, ia akan merubah sikapnya. Ia akan berbuat baik terhadap tetangganya yang satu ini.
posted by Remaja Masa Kini at 04.07  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home